SAPA HANGAT

Selamat datang dan terima kasih kepada anda telah berkunjung ke alamat blog pribadi saya.

Blog ini sengaja ku disain untuk diriku dan famili. Tapi jika bermanfaat bagi orang lain seperti teman-temanku, atau siapa saja yang berkunjung ke sini, aku sangat senang.

Semoga saja usaha ku ini tidak sia-sia. Aku bisa banyak belajar di sini. Mendisain blog ini adalah satu di antara inspirasiku untuk mengenal dan dikenal orang lain. Menjadi motivasiku dalam memperkaya ilmu dan skill. Buktinya kita di sini bisa merancang sendiri disaint grafisnya, bermain-main kata, mengotak-atik program komputer dan belajar berkomunikasi di dunia cyiber, menjalin hubungan kekeluargaan (silaturrahmi), persahabatan, Mempertajam memori (rekaman peristiwa penting) kehidupan pribadi. Sehingga, membantu kita agar selalu merenung (introspeksi diri).


Sabtu, 2008 April 12

AWAS VIRUS AKHLAK



Anda baru mendengar istilah ini ?,or “kura-kura dalam perahu”?.. ,OKe, penemuan terbaru tim intelek yang masih melek akan menjawab kebingungan anda. Mari kita simak present berikut ini.

Istilah “VIRUS AKHLAK’ memang tidak lazim digunakan. Dan tidak ada korelasinya dengan disiplin ilmu terkait [biologi, or cyiber elektro/komputer]. Mengapa pakai istilah itu?, ini dia, kita hanya meminjam istilah dari disiplin ilmu lain guna mendekati pemahaman yang sebenarnya. Penasaran bukan ?, kita lanjutkan. Semua tahu VIRUS identik dengan parasit pembawa penyakit. Ia merugikan setiap apa yang ditempatinya. Contoh, di bidang Biologi, Virus yang tidak kasat mata bisa melumpuhkan

Organisme lain yang size-nya lebih besar. Begitu pula di dunia teknologi informasi dewasa ini sering diserang VIRUS-VIRUS berwujud elektro. File banyak terhapus, program computer, data rahasia menjadi kacau. Itu bukti bahwa VIRUS telah diklaim sebagai musuh rumit di dunia nyata & maya.

Di musim hujan tidak jarang orang-orang dan termasuk anda terserang Virus Influenza. Anda tahu bagaimana sulitnya bernapas saat pilek. Karena setiap detik Virus tersebut mampu berkembang biak akibat suhu kondisi yang lembab.

Tapi jangan salah, kita di sini bukan sedang membahas devinisi virus yang disebutkan di atas. Sepintas tampak sama [sama-sama parasit] . Kata “VIRUS” dikaitkan dengan kata“AKHLAK” dari kosa kata bidang agama, nyambung nggak ya?. Coba saja, “VIRUS” [parasit, perusak] & “AKHLAK” [prilaku, perangai]. Jika kita gabung & dimaknai, VIRUS AKHLAK adalah segala prihal yang dapat merusak prilaku. Artinya virus tersebut dapat menggerogoti prilaku baik seseorang dan mengubahnya dengan prilaku buruk. Wah, cukup logis. Lalu apa saja yang dikatakan sebagai VIRUS AKHLAK ?, udah tau nanya’, prihal yang terdeteksi sebagai VIRUS : kebiasaan menggosip [membuka aib orang], bicara jorok, bohong, suka menghina, kebiasaan melototi gambar & tayangan visual vulgar, dll. Itu semua secara tidak sadar dapat melumpuhkan dan menghancurkan sipelakunya. Orang yang begini lama-kelamaan akan mengalami gangguan mental. Gejalanya dapat kita lihat dari keanehan tingkah lakunya di mata orang lain, baginya sih biasa-biasa saja. Hati-hati jangan sampai terjangkiti. [red]

[OK my freand, Keep your self ]

Mulianya Orang Beriman & Berilmu

...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadilah : 11)


Potongan terjemahan ayat di atas tidaklah asing diingatan kita yang sering mengkaji AlQuran. Apalagi yang telah dianugerahi taufiq (kekuatan) oleh Alloh untuk mengamalkannya. Secara tekstual, ayat ini menceritakan dalam hal memberi keleluasaan orang dalam majelis ilmu agar bisa duduk bersama. Inilah salah satu adab di dalam majelis ilmu. Tapi kali ini kita tidak sedang mengkaji adab di dalam majelis ilmu, melainkan eksistensi orang yang beriman dan berilmu di sisi Allah Al ‘Alim.

Alloh Azza Wajalla memposisikan orang beriman dan berilmu beberapa derajat. Artinya mereka sangat dimuliakan dari hamba Alloh yang hanya seorang ‘abid (ahli ibadah) tapi miskin ilmunya. Begitu pula sebaliknya, mereka yang berilmu namun miskin imannya. Sebagaimana Rasulullah Saw. ber sabda : “Keutamaan seorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang….”(HR. Tirmidzi ).

Hadits tersebut menginformasikan bahwa seorang ‘alim yang dimaksud adalah orang yang memiliki ilmu untuk diamalkan dan memegang teguh keimanan kepada Alloh semata. Bukan mereka yang tahu segala hal namun berat hatinya untuk mengaplikasikan alias berapologi belaka. Hal tersebut diisyaratkan dengan tegas oleh Alloh SWT. dalam firman-Nya :

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS.As Shaff: 3)

Jangan sampai seperti apa yang diisyaratkan Alloh SWT tersebut. Hanya mengandalkan retorika (gaya berpidato) yang memukau para audiens. Sementara kandungan hikmah/ruuh dari kajian ilmu tersebut nihil.

Rasulullah Saw. menggambarkan para pemilik ilmu dengan lembah yang bisa menampung air yang bermanfaat terhadap alam sekitar, beliau bersabda, yang artinya: Perumpamaan dari petunjuk ilmu yang aku diutus dengannya bagaikan hujan yang menimpa tanah, sebagian di antaranya ada yang baik (subur) yang mampu menampung air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak, di antaranya lagi ada sebagian tanah keras yang (mampu) menahan air yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia untuk minuman, mengairi tanaman dan bercocok tanam. Dan sebagian menimpa tanah tandus kering yang gersang, tidak bisa menahan air yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka demikianlah permisalan orang yang memahami (pandai) dalam dien Allah dan memanfaatkan apa yang dengannya aku diutus Allah, maka dia mempelajari dan mengajarkan. Sedangkan permisalan bagi orang yang tidak (tidak memperhatikan ilmu) itu (sangat berpaling dan bodoh), dia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ilmu adalah jalan menuju Surga, tiada jalan pintas menuju Surga kecuali ilmu. Sabda Rasulullah Saw

: Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim).

Masih banyak dalil-dalil baik dari AlQuran maupun AlHadits yang menjelaskan tentang keutamaan dan kemuliaan orang beriman dan berilmu. Sehingga, membuat kita penasaran dan ingin segera menyingkap kandungan dari sumber informasi tersebut. Namun demikian yang terpenting adalah komitmen (menetapkan pendirian) selalu haus akan ilmu baik untuk kebaikan di dunia maupun di akhirat. Serta konsisten (istiqamah) dalam realisasi amal nyata. “Ilmu tanpa iman & amal seperti butir padi kosong, iman & amal tanpa ilmu seperti lentera tanpa cahaya” (Kata Hikmah

Ayo hidup bersosial di masyarakat


Makhluk sosial, demikian sebutan yang lumrah untuk kita sebagai manusia di muka bumi ini. Secara sederhana, manusia sebagai makhluk sosial diartikan bahwa kehidupan manusia tidak akan berlanjut tanpa hubungan dan bantuan sesamanya. Dengan kata lain manusia tidak bisa bertahan hidup secara individu.

Sudah sewajarnya kita saling membantu satu dengan yang lain. Sehingga terwujud suasana kehidupan yang tenteram dan damai.

Manusia memang dibekali oleh Tuhan dengan sifat asal (fitrah) yang mendukung untuk hidup secara bersama. Auguste Comte (1798-1857), Bapak Ilmu Sosiologi menyebutkan bahwa satu di antara insting atau naluri yang dimiliki manusia adalah insting sosial (Social Instincts). Seperti kebutuhan akan kasih sayang kepada sesama, keinginan untuk dihormati dan dihargai, serta kebutuhan untuk hidup bersama.

Semua orang yang masih sadar akan eksistensi hati nuraninya pasti akan tersentuh dengan penderitaan dan kesengsaraan orang lain walaupun bukan saudara atau familinya. Sehingga muncul keinginan untuk membantu meringankan beban orang lain (Syimpathetic reconstruction).

Lebih terasa mulia nilainya baik di hadapan Tuhan maupun sesama, jika bantuan yang diberikan didasari dengan keihlasan/suka rela.

Berbeda dengan seseorang yang lebih suka memilih hidup menyendiri. Ia akan menemukan kesulitan untuk bersosialisasi di masyarakat. Ia akan gamang dengan kegiatan yang biasa dilakukan di masyarakat. Sikap seperti ini kerap terjadi pada mereka yang kurang memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri.

Selain itu, dampak dari hidup menyendiri itu adalah sifat individualisme yang tinggi pada diri seseorang.

Kita tahu sikap individualisme itu sangat merugikan. Merugikan diri sendiri dan orang lain. Dikatakan merugikan diri ibarat bumerang, dengan sikap introvert (menyendiri)nya tersebut ia akan dijauhi dan dikucilkan orang banyak. Ketika ia memerlukan pertolongan orang lain, sulit menemukan orang yang mau menolongnya. Sebab ia kurang dikenal banyak orang alias orang terasing. Merugikan orang lain, karena ia hanya memikirkan pribadinya tanpa peduli dengan permasalahan orang lain. Artinya tidak ada rasa simpati, tenggang rasa, apalagi empati dengan penderitaan orang lain.

Sekarang jawablah dengan jujur!,bisakah seseorang memperjuangkan dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun seumur hidupnya ?...

Lain halnya dengan belajar hidup mandiri (uzhlah). Hidup mandiri bukan berarti menjauhi interaksi dengan orang lain. Mandiri merupakan salah satu cara menumbuhkan sikap kedewasaan dan kematangan kepribadian seseorang. Maka dari itu hal tersebut sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang menelusuri jati dirinya. Ia yakin pada kemampuan dirinya. Sehingga muncul kepercayaan diri. Dan kepercayaan diri inilah yang menjadi modal untuk bersosial di masyarakat. Ayo lakukan yang terbaik bagi dirimu dan orang lain di sekitarmu. Selamat berjuang untuk umat